Selasa, 30 Oktober 2012

Sampai menutup mata 2 ( selalu bersama dalam suka atau pun duka )


( yang baru pertama baca,sebaiknya baca dari yan pertama, biar mengerti alurnya ) maksih  :)


Cerita belangan itu akan menjadi memori indah.
hmmmm semakin saja ku merasa tak ingin jauh dari dia.

25 Februari 2000
hari yang begitu mendung dan hujan,detik pajar menyongsong saat itulah rasaku mulai gelisah,namun mungkin hanya rasaku saja. semua orang masih saja tersenyum dihari itu begitu pula dia,dia yang tetap menghiasai hariku dengan senyum ramah nya.
Seperti biasa aku dengan riang beranjak pergi ketempat belajarku sembari selalu membawa si kecil teddy bear dari si dia, aku yang semakin merasa bahagia dikala melihat dia yang tersenyum di sudut pintu gerbang rumahku,dengan setia dia mengguku dari kejauhan. Namun,ada yang beda,hari ini dia begitu kusam raut wajahnya tapi senyumnya masih sempurna.

Tak seperti biasanya aku dianatar oleh dia saat berangkat,dengan santai dia mengayuh sepeda ontel nya dengan telaten dia membawaku dengan rasa nyaman dan semakin saja membuatku merasa hidup.
Firasatku semakin lama semakin mengguncang saja, aku yang di sini hanya mampu meredam dengan memeluk si teddy.

Jam pun tepat menujukan pukul 14.00 dan itulah waktunya aku berajak dari sekolah. Sekali lagi mungkin dia ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang sederhana namun penuh dengan senyum kejutan bersama sahabatku dia berkumpul di belakang halaman kelas. Dengan indah nya dia menyuguhkan sebuah rangkaian bunga mawar cantik yang masih berembun dan itu membuat ku semakin bahagia, seketika musnah sudah segala gelisah yang bersarang dihati ini.
Semua sahabatku meledek dengan centil, aku pun tersipu malu dengan keadaan ini.
Bergegas dia mengajaku pulang karena hari semakin gelap dan dia selalu menghawatirkan keadaanku,pedahal dalam kenyataan aku dalam keadaan yang baik-baik saja.
Tapi tiba-tiba hujan deras menguyur senja itu saat aku masih dalam perjalanan menuju rumah, dan aku melihat dia begitu mengigil saat mengendarai sepeda, aku pun meminta dia memberhentikan kayuhan sepeda nya dan singgah di pondok dekat bibir danau. Kondisi dia membuatku khawatir, mukanya pucat,tangannya gemetar dan dingin, aku pun menangis cemas melihat keadaan dia. Dalam keadaan seperti ini hujan tak kunjung reda, aku tak tega melihat dia seperti ini, dengan memberanika diri aku mencoba memeluk dia dan memberikan rasa nyama,namun dia tak sadarkan diri, hal ini semakin membuatku panik.
Aku tak mungkin berdiam diri sementara dia tergeletak begitu lemah di tempat yang dingin. Aku nekad mencari pertolongan dan meninggalkan dia sejenak. Dengan hujan yang deras aku berlari mencari pertolongan untuk membawa dia ketempat yang lebih nyaman, aku tak ingin sesuatu menimpa dia. Kesana kemari aku berlari meminta pertolongan namun tak ada seorang pun yang terlihat, aku mulai lelah tapi aku haru berusaha mencari bantuan demi dia.
Di ujung jalan aku menemuka sebuah gerobak sayur milik warga dan hanya ini trasportasi yang mampu aku gunakan untuk membawa dia pulang. Aku bergegas kembali kembali ke pondok untuk segera membawa dia kembali ke rumah agar mendapatkan pertolongan yang lebih nyaman.
Meski badanku sendiri lelah mengigil dan hujan pun masih tetap menguyur dengan derasnya,aku akan membawa dia dengan gerobak ini, wajah dia semakin pucat, begitu pula kondisi tubuhku yang semakin basah kuyup dan mengigil kedinginan, namun aku takkan pernah menyerah demi keselamatan dia,
dalam hatiku " Ya Allah, kuatkan aku,aku harus bisa,demi dia,demi dia yang selama ini menyayangku, aku tak mau dia mengalami sesuatu yang buruk, kuatkan aku dan dia sampai  tujuan." Air mataku menetes karena ku takut akan sesuatu terjadi pada dia.
Terlihat diujung jalan ada sebuah bangunan puskesmas desa,aku harus bisa mencapai tempat itu untuk menolong dia. langkahku semakin berat,tenagaku semakin menipis,lelah semakin mendera tubuhku,hapir sampai ... sampai .. tibalah sudah aku didepan pintu puskesmas desa dengan lelah dan aku pun berlari meminta tolong pada petugas untuk memberikan pertolongan, syukurlah dia telah mendapatkan pertolongan.
Detak jantungku perlahan melaun,langkahku menipis,penglihatanku memudar,mataku berkunang-kunang.. bruuggg aku terjatuh tak sadarkan diri di tempat dan salah satu petugas melihat ku dalam keadaan tergeletak tak berdaya,dan bergegas memberiku pertolongan dengan segera mungkin.

Hujan pun berlalu membawa embun.
Perlahan mataku terbuka,terbuka dengan lemas,sedikit demi sedikit aku menyadarkan diri dari ketidaksadaran. Tiba-tiba ku mengingat dia dan aku bergegas bangun,namun ku merasa sakit dan lemas. Aku pun melepas infus dan berlari menuju kamar dimana dia dirawat. Keadaan ku semakin melemas setelah melihat kondisi dia yang begitu lemas tak berdaya dan belum sadarkan diri,tanpa merasakan lelah aku bergegas memeluk dia dengan rasa rindu yang menyelimuti hari tanpa senyuman dia.
Baru kali ini aku merasakan kesedihan mendalam,tak hentinya air mata ini terjatuh karena dia. Kalau dia melihat aku seperti ini,dia pasti marah-marah. " Ya Allah, aku tak ingin sesuatu terjadi pada dia,bangunkan dia Ya Allah,bangunkan dia, hanyalah dia yang mampu menyampaikan kasih-Mu pada ku,dia hari2ku dia sandaran hatiku,aku berjanji akan menyayangi dia,msngasihi dia selama dia menghembuskan nafasnya,aku mohon pada-Mu Ya Allah,amin .. " . Semalaman aku menangis di depan dia,dan aku pun tertidur di sisinya.

Keesokan harinya
Hari yang cerah mengawali hari ini,tetesan air yang tertinggal saat hujan semala masih membesahi jendela kaca puskesmas desa.
Sentuhan lembut menyentuh kepalaku saatku masih terlelap,sentuhan itu semakin jelas terasa sehingga membuatku terbangun. Saat ku terbangun ternyata dia telah sadarkan diri sembari mengelus-elus bahuku dengan lembut.
Aku terkejut menyadri semua ini,langsung saja aku memeluk dia dan mengusap tangannya ,sembari air mata ini menetes pada senyumku. Dia sedikit murung " Kamu kan udah janji sama aku,kalau kamu tak akn meneteskan air mata di hadapanku,setetes air mata mu meruapakan tamparan batin untukku,jadi kamu harus senyum ya,karena senyumanmu obat ampuh buat sakitku ini." sambil menghapus air mata dipipiku dengan kelembutan.
Aku hanya bisa membalas dengan senyum tanpa berkata-kata lagi.


                         BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar